Man City di Titik Kritis Ketika Kekalahan Memicu Seruan Perubahan

Manchester City memasuki periode paling sulit dalam beberapa musim terakhir setelah menelan dua kekalahan memalukan secara beruntun. Kekalahan dari Manchester United di Old Trafford menjadi pukulan telak, bukan hanya karena status rival abadi, tetapi juga karena City tampil tanpa identitas permainan yang jelas.

Man City di Titik Kritis Ketika Kekalahan Memicu Seruan Perubahan

Dominasi yang biasanya menjadi ciri khas tim asuhan Pep Guardiola nyaris tak terlihat sepanjang laga tersebut. Belum sempat bangkit, City kembali dipermalukan di Liga Champions oleh Bodo/Glimt.

tebak skor hadiah pulsa 100k  

Hasil ini terasa lebih menyakitkan karena lawan datang dengan status non-unggulan. Kekalahan itu membuka mata banyak pihak bahwa masalah City bukan sekadar soal hasil, melainkan performa tim secara keseluruhan yang menurun drastis.

AYO DUKUNG TIMNAS GARUDA, sekarang nonton pertandingan bola khusunya timnas garuda tanpa ribet, Segera download!

aplikasi shotsgoal  

Rentetan hasil buruk ini membuat tekanan terhadap Guardiola meningkat tajam. Publik dan pengamat mulai mempertanyakan apakah era kejayaan City di bawah asuhan pelatih asal Spanyol itu mulai mendekati akhir.

Guardiola Dibandingkan Wenger di Akhir Masa Kejayaan

Kritik paling keras datang dari pembawa acara talkSPORT, Adrian Durham, yang secara terbuka meminta Guardiola menawarkan pengunduran diri. Ia menilai kondisi City saat ini mirip dengan fase akhir Arsene Wenger di Arsenal, ketika kesuksesan masa lalu tak lagi sejalan dengan performa tim di lapangan.

Menurut Durham, Guardiola memang telah memberikan segalanya untuk City dengan koleksi 18 trofi. Namun, ia menegaskan bahwa setiap era memiliki batas. Ketika hasil memalukan terus berulang, seorang manajer dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk mengevaluasi posisinya sendiri.

Durham menekankan bahwa menawarkan mundur bukan berarti harus pergi. Itu adalah bentuk tanggung jawab dan pengakuan bahwa ada masalah besar yang perlu ditangani, baik oleh manajer maupun klub.

Baca Juga: Malam Kelam Manchester City di Tanah Norwegia

Masalah Taktik dan Absennya Pilar Penting Tim

Man City di Titik Kritis Ketika Kekalahan Memicu Seruan Perubahan

Penurunan performa City juga dikaitkan dengan krisis di lini tengah. Cedera panjang Rodri membuat keseimbangan permainan terganggu. Meski telah kembali bermain, Rodri belum tampil seperti sosok dominan yang pernah meraih Ballon d’Or, memunculkan pertanyaan soal waktu comeback yang dinilai terlalu cepat. Situasi ini diperparah dengan absennya kontribusi Kalvin Phillips yang jarang mendapat kesempatan.

Banyak pihak menilai Guardiola gagal memaksimalkan sumber daya yang ada, terutama ketika tim sedang membutuhkan alternatif di lini tengah. Di sisi lain, Phil Foden juga tampil di bawah standar. Kreativitas dan pengaruhnya dalam permainan nyaris menghilang, membuat lini serang City mudah dipatahkan lawan.

Haaland Mandul dan Eksperimen Jadi Bumerang

Eksperimen Guardiola di posisi bek sayap turut menuai kritik. Keputusan memainkan bek tengah sebagai fullback dinilai mengurangi keseimbangan tim, sementara pemain yang lebih natural di posisi tersebut justru jarang dimainkan.

Sorotan terbesar tertuju pada Erling Haaland yang mengalami paceklik gol dari permainan terbuka. Mesin gol yang biasanya mematikan kini terlihat frustrasi dan minim suplai bola matang. Kondisi ini membuat efektivitas City menurun drastis di lini depan.

Kombinasi antara taktik yang dipertanyakan, performa pemain kunci yang menurun, dan hasil buruk membuat masa depan Guardiola di City mulai diperdebatkan. Meski belum tentu berujung perpisahan, satu hal jelas: Manchester City sedang berada di persimpangan besar. Simak dan ikuti terus informasi Manchester City terbaru secara lengkap hanya di mancity365.com.